NEWS | (+) ADD TO WATCH LATER

(+) ADD TO WATCH LATER

BY BIAS G. WICAKSI 17 / 02 / 2018



3 IRON : ROMANTISASI TANPA BASA BASI

Tidak ada salahnya jika memang tema cinta segitiga terbilang sangat general. Apalagi tentang suami, istri dan orang ketiga. Alih-alih film ini dituturkan secara naratif, malahan Kim Ki-duk selaku sutradara mempertontonkan kedua karakter utama tanpa sepatah kata. Sarat akan cinta yang dewasa, sifat karakter yang manusiawi dan sentilan bobroknya hukum negara Korea selatan ada pada sepanjang film tersebut.

Cinta datang karena ketidaksengajaan.

Memang kurang dari sepuluh menit film berlangsung, penonton mampu menafsir bahwa “pasti dia orangnya”. Tae Suk si karakter utama laki-laki adalah loneratau driftermungkin di Korea Selatan sana, yang berutinitas menaruh brosur padapagar rumah atau gagang pintu apartemen, berkeliling tersu seperti itu tiap hari menggunakan motorbike-nya. Jika selang beberapa hari brosur masih tergantung rapi, disana dia akan membobol pintu tersebut dan masuk. Alih-alih ada keinginan untuk mencuri, Tae Suk hanya beraktivitas layaknya rumah sendiri. Justru jika ada perabot rumah yang rusak, tak segan ia perbaiki. Tanpa disadari, Tae Suk memasuki rumah – dimana pemilik rumah adalah kaum kelas ekonomi menengah keatas – tergambar jelas dari ukuran rumah tersebut yang cukup besar. Yang tidak Tae Suk sadari adalah perempuan muda dengan luka memar pada pinggir bibir, masih ada di dalam kamar seperti dalam kondisi penuh tekanan. Pada adegan itulah tafsir saya atau mungkin penonton lain benar adanya bahwa “pasti Sun Hwa-lah orang yang akan menemani Tae Suk”

Kim Ki-duk juga tak ingin berbasa-basi, penonton dengan cepat diajak untuk menikmati perjalanan mereka berdua. Tontonan yang cukup mengherankan untuk kita juga termasuk ruang baru untuk Sun Hwayang diajak berkelana oleh Tae Suk dari satu rumah ke rumah yang lain. Menikmati rutinitas harian berdua tetap dengan rasa gelisah jika si pemilik rumah tiba-tiba hadir. Rasa traumatis akibat kekerasan fisik maupun psikologis yang dilontarkan oleh si suami pada Sun Hwa kerap kali menghantuinya.

Cerita ini rilis dengan judul asli Bin-Jip yang konon mempunya arti Rumah Kosong, namun di-universal-kan menjadi 3 Ironyang juga konon mempunyai makna salah satu tipe alat pemukul pada olahraga golf – dimana golf pada film ini menjadi ikonik. Menyigkirkan logika pada judul tersebut, Kim Ki-duk mampu memanusiakan manusia terhadap karakter ciptaannya. Si suami Sun Hwa dengan katamakannya karena merasa kepala keluarga dihadapan istrinya dan dendam yang tak berkesudahan terhadap Tae Suk yang dikiranya telah ‘menghilangkan’ Sun Hwa.

Tak memanjakan mata, namun indah.

Disepanjang film kita tidak disuguhkan dengan tangkapan-tangkapan kamera yang indah, setting art yang simetris atau bahkan pengambilan gambar jarak jauh yang menampilkan gemerlap Korea Selatan. 3 Iron mengajak kita fokus pada Tae Suk dan Sun Hwa dalam keseharian. Interaksi batin mereka berdua sangat mendominasi disepanjang 88 menit film berlangsung. Tak ada sepatah katapun untuk menunjukkan sesuatu, hanya dengan gerakan yang cukup informatif untuk menandakan maksudnya.

Kondisi ekonomi suami Sun Hwa juga tak diekspos secara blak-blakan dan tidak ada kemewahan yang diumbar. Kelas ekonomi keatas hanya ditunjukkan melalu halaman rumah yang cukup luas, permainan golf dihalaman belakang rumah dan pakaian rapi suami Sun Hwa. Tim art departmentrasanya mampu menuruti apa mau si sutradara, tetap difokuskan pada satu poin inti. Cerita berjalan dengan sangat subtil dan sederhana.

Tidak menjawab persoalan zaman.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga tak hanya terjadi sekali zaman. Bahkan berlangsung hingga sekarang. Tidak hanya di Korea Selatan saja namun juga di berbagai negara, yang menjadikan film ini related untuk khalayak luas. Film ini bukanlah suatu penanda bahwa pada tahun-tahun tersebut adalah tingkat tertingginya suatu KDRT. 3 Irontetap masuk akal jika ditonton hingga saat ini, namun bukan juga tontonan yang bersifat untuk ‘pembersih’ kasus-kasus pada zamannya. Kasus ini tidak akan bisa bersih hingga kapanpun. Permasalahan rumah tangga, perselingkuhan, dan ucapan acap “pasangan itu saling melengkapi” disuguhkan cukup pas pada porsinya. Si pembuat film juga menyentil sedikit ketamakan kaum kelas ekonomi keatas yang bisa semena meggunakan uang untuk suatu ajang balas dendam, mengakibatkan Tae Suk yang sudah terbukti tidak bersalah namun harus tetap di bui oleh apparat keparat setelah menerima suap.

Menyoal kisah cinta yang saling melengkapi, 3 Ironmenghadirkan itu. Ketika Tae Suk menyandarkan kepala ke bahu Sun Hwa suatu penanda penyesalan atas apa yang telah diperbuat yaitu memukul bola golf sampai mengenai pengandara mobil lalu kepalanya bocor. Begitu juga suatu adegan yang sebaliknya. Penanda bahwa dalam suatu hubungan, jika ada salah ya untuk dimaafkan tidak untuk diteriakkan kesalahannya. Acap kali muda-mudi sampai saat ini mengalami hal serupa dalam menjalin asmara. Kim Ki-duk saya rasa cukup lihai dalam menjawab pernyataan perempuan “kalau cinta, buktikan”. Sepanjang film berlangsung Tae Suk selalu membuktikannya tanpa harus mengeluarkan sepenggal kata pun. Introgasi aparat terhadapnya saja didamkan, biar waktu yang menjawab. Setelah waktu menjawab keadilan dan dibungkam dengan suap, saat itulah Tae Suk harus membuktikannya dengan cara lebih.

Teknik menghilang, entah apa itu namanya, ia pelajari selama berada dalam bui. Terdengar cukup tidak logis dengan karakter Tae Suk – lulusan S1 – tidak mempunyai pekerjaan namun mampu mempelajari hal itu dengan sangat sukses hingga keluar dari bui dan menemui Sun Hwa lagi. 3 Iron membuktikan bahwa cinta bukanlah seberapa banyak yang kita ucap namun seberapa besar yang kita ungkap.

3 Iron | Genre : Romance, Drama, Crime | Director : Kim Ki-duk | Duration : 88 menit | Year Realese : 2004. | trailer

WHAT THEY DON’T TALK ABOUT, WHEN THEY TALK ABOUT LOVE : DISUKAI DAN MENYUKAI

Kisah Cinta Luar Biasa

Kali ini adalah kisah cinta remaja disfungsional yang coba dituturkan oleh Mouly Surya. Pilihan yang cukup unik mengutarakan kisah cinta remaja disabilitas di Sekolah Luar Biasa. Mengenai Fitri (Ayushita) remaja tunanetra yang suka kepada ‘dokter cinta’. Namun Fitri sudah kepunyaan Lukman (kekasihnya) – yang ia kira ‘sempurna’padahal tidak. Ada tompel besar di pipi kanan Lukman yang tidak Fitri ketahui sebagaimana ‘dokter cinta’ itu adalah Edo (Nicholas Saputra) yang juga Fitri belum ketahui. Lukman bukanlah siswa dari Sekolah Luar Biasa tersebut, karena memang tidak ada yang salah dalam alat inderanya, yang salah ada pada caranya yang memposisikan Fitri sebagai hasrat seksualitasnya.

Diana (Karina Salim) seorang gadis remaja penyandang miopi, tertarik dengan kedatangan Andhika (Anggun Priambodo) seorang murid baru di sekolah tersebut.

Rawan Timbul Kebosanan

Mouly telah ‘melahirkan anaknya’ dengan luar biasa pula.What They Don’t Talk About, When They Talk About Love paham betul akan dilarikan kemana. Jelas bukan untuk mata yang terbiasa dengan premis romansa ‘love at the first sight’ atau ‘seorang pria yang merawat pacarnya karena telah divonis dokter blablabla’. Sehubungan itu, film ini memberikan tutur visual yang bebeda untuk tema kisah cinta remaja. Kamera yang dibiarkan bebas mengikuti kemana objek berjalan, memberi gambaran untuk fokus terhadap apa yang ingin disampaikannya. Tak jarang juga seolah kita menonton pertunjukkan teater, hanya satu angle, dipanjer,dan membiarkan objek yang bercerita. Di beberapa scene juga, Mouly dengan tegas memposisikan penonton sebagai seorang tunarungu. Tidak ada bunyi yang terdengar sama sekali, malahan kita disuguhkan untuk menikmati bahasa isyarat yang mereka sampaikan.

Bak Seorang Koki.

Menyoal film-film yang mengusung tema disfungsional pada alat indera, seringnya filmmakermenggali dari sisi mimpi dan kelebihan tokoh yang mudah diwujudkan. Tidak dengan Mouly Surya. Dia hanya memposisikan mimpi sebagai mimpi. Namun di beberapa menit terakhir film, disuguhkan scene dengan semua tokohnya ‘normal’. Menunjukkan bahwa mimpi diposisikan sebagai mimpi, bukan suatu yang mudah diwujudkan, saya menafsir bahwa scene tersebut hanyalah bayangan-bayangan mereka seolah mereka normal dan jadilah seperti itu kisah cintanya. Disini peran Mouly Surya sukses sebagai seorang ‘koki’ yang memasak tanpa resep seutuhnya. Dicobanya bumbu demi bumbu yang ia punya dan masakan siap dihidangkan. Urusan selera, biar lidah masing-masing yang merasakannya.

What They Don’t Talk About, When They Talk About Love | Genre : Romance, Drama | Director : Mouly Surya | Duration : 88 menit | Year Realese : 2004. | trailer


A TAXI DRIVER :KECINTAAN PADA NEGARANYA NAMUN APOLITIS

A Taxi Driver besutan Jang Hoon dengan sangat gamblang membuka luka lama Korea Selatan, tepatnya daerah Gwang Ju. Diawali dengan pengenalan tokoh sopir taksi yang asik mengemudikan taksinya sambilsing along sesuai radio yang sedang didenganrnya. Kim Sa-bok namanya. Yang awalnya susahnamun akhirnya dipandang sebagai pahlawan.

Pemalsuan Ini Itu.

Kemacetan di Seoul karena adanya demonstrasi, taksi Kim Sa-Bok yang tertabrak gara-gara salah satu pendemo, dan seorang suami yang mengantarkan istrinya ke rumah sakit untuk melahirkan namun lupa tak membawa dompet untuk membayar taksi Kim Sa-Bok : adalah perwujudan awal seorang sopir taksi yang penuh hambatan. Perjalanan dalam cerita ini dimulai ketika Hintzpeter seorang reporter asing (berasal dari Jerman) yang sedang berada di Tokyo sedang bosan berada pada zona nyaman. Diberitahunya ia oleh kawan baru bahwa di Korea Selatan tepatnya daerah Gwang Ju sedang semrawut. Demo antar aparat militer dan mahasiswa bak tragedi ‘98 di Indonesia. Legal bagi Hintzpeter memalsukan identitasnya menjadi seorang pendakwah demi untuk bisa terbang menuju Seoul.Legal pula bagi Kim Sa-bok berpura-pura menjemput Hintzpeter menggunakan taksi pribadinya ini dengan alasan semua taksi perusahaan sedang sibuk demi 100.000 won untuk tujuan ke daerah Gwang Ju.

Hintzpeter dan Kim Sa-bok berhasil mendarat ke daerah terlarang tersebut dengan bantuan jalan-jalan pintas dan manipulasi tujuan ketika ditanya aparat militer di salah satu akses jalan pintas. Pertemuan di jalanan Gwang Ju (yang amat sangat sunyi dan mencekam) antara reporter asing ini, Kim Sa-bok dan segerombolan mahasiswa membuat para mahasiswa ini yakin bahwa kabar kerusuhan Gwang Ju dapat mengudara di dunia dengan bantuan mereka. Namun Kim Sa-bok memilih kabur, apolitis memang tapi ini realistis. Lebih baik menjaga putrinya yang berumur 11 tahun, tinggal sendiri dirumah karena ibunya sudah lama meninggal daripada berurusan dengan orang-orang yang pro kontra dengan rezim baru. Kim Sa-bok terpaksa dipertemukan lagi dengan mereka melalui ‘jembatan’ ­– setelah taksinya putar balik, ia diberhentikan oleh seorang ibu (terlihat gembel) yang ingin menaiki taksinya untuk mencari anaknya yang hilang diduga serangan aparat militer. Yang dimana anak ibu tersebut adalah salah satu dari segerombolan mahasiswa tadi. Kebetulan-kebetulan ini akan selalu ditemui pada film-film yang ngepop.Cerita berlanjut, keseluruhan pergolakan fisik dan informasi mengenai kerusuhan Gwang Judalam filmini akan menutupi karakter Hintzpeter yang (jika diperhatikan) bak pahlawan, sempurna, tanpa kekurangan apapun.

Pembangunan Melalui Mood

Bisa dibilang perkawinan yang istimewa antara Sutradara dan Editor. Mampu membangun mood dengan apik. Kita dibawa oleh suasana Seoul yang tenang dan tentram, dengan warna-warna yang ceria namun selang waktu berikutnya kita dibawa untuk menikmati kacaunya Gwang Ju. Merah, tegang dan mengkhawatirkan. Pemilihan genrekomedi pada A Taxi Driver dirasa tepat. Si pembuat film merasa bahwa informasi kerusuhan ini sangat sensitif, lalu dibawanya dengan mood komedi yang dirasanya pas. Berimbang satu sama lain tanpa menyinggung pihak kiri maupun kanan. Disempurnakan lagi bantuan scoring yang tepat untuk menaikkan intensitas alur cerita. Sepanjang film hampir tidak ada ucapan dari seorang Kim Sa-bok yang mengarah ke politik. Semua urusan perpolitikan dikuasai oleh seorang warga, mahasiswa dan Hintzpeter. Tak salah jika awalnya saya tidak terima cerita ini diberi judul A Taxi Driver. Namun semua dimaafkan jika telah menelaah dari keseluruhan cerita.

Membuka Luka Lama

Memang dirasa penting sesekali mengingat perjuangan warga untuk mendapatkan keadilannya meskipun sudah bukan zamannya. Alih-alih untuk membuka luka lama identitas buruk suatu daerah namun juga untuk mengenal siapa pelaku sejarah tersebut. A Taxi Driver mempertontonkan seburuk-buruknya Gwang Ju pada 1980 saat itu.Pembantaian, demonstrasi, baku tembak, korban luka dan meninggal mendominasi pada saat itu. Para militer Gwang Ju membungkam habis-habisan suara warga-warganya. Penutupan akses jalan keluar masuk telah dilakukan, bahkan sampai memutus koneksi telepon di Gwang Ju. Itu semua berhasil dilewati Hintzpeter, yang membuat logika penokohan kurang masuk akal. Namun secara keseluruhan A Taxi Driver memperkenalkan pahlawan yang mungkin selama ini belum banyak orang ketahui. Seorang sopir taksi yang telah berjasa mengantarkan tekad seorang reporter asing untuk terjun kedalam kerusuhan Gwang Ju.